Monday, January 29, 2007

“Gurauan” Jusuf Kalla

Lagi-lagi jusuf kalla berulah, setelah beberapa waktu lalu mengeluarkan kritik pedas kepada kalangan guru di indonesia, kini sasaran kritik wakil presiden cum pengusaha ini diarahkan ke mahasiswa. Seperti dikutip Lampost (29/1/07), kalla mengkritik kalangan mahasiswa yang menurutnya hanya tahu teori dan demonstrasi saja, ia mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena sistem pendidikan di perguruan tinggi yang lebih banyak dihabiskan dikampus ketimbang terjun langsung di masyarakat.

Sehingga kemudian lulusan yang dihasilkan kemudian tidak bisa berbuat apa-apa dimasyakarat untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya dikampus.
Kalla beranggapan bahwa mahasiswa harus tahu praktek dan penerapannya dimasyarakat.
Sekiranya kalla memahami arti perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan, saya pikir ia takkan mengeluarkan kritik konyol ini.

Dalam sistem pendidikan di indonesia dan lazimnya di dunia, ada dua tujuan yang hendak dituju yaitu menghasilkan lulusan yang siap kerja dan lulusan yang meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk lebih memahami secara teori.
Kedua tujuan ini diterjemahkan kedalam pembagian-pembagian sekolah, yaitu sekolah kejuruan dan sekolah lanjutan.

Dan sebagai warga negara dengan adanya pilihan tersebut kita sebenarnya kita tinggal memilih kemana hendaknya pendidikan yang akan kita tempuh.
Apabila hendak menjadi lulusan yang siap kerja maka kita dapat memilih pendidikan kejuruan dalam hal ini Sekolah menengah kejuruan (SMK) dan kemudian dilanjutkan dengan progam diploma selepas kita merampungkan pendidikan dasar, dan apabila kita hendak lebih menguasai secara teori dan mendalami kelimuan, maka kita dapat memilih sekolah lanjutan dalam hal ini Sekolah menengah atas dan kemudian dilanjutkan dengan program sarjana kemudian master hingga profesor.

Dari uraian tersebut kita tahu bahwa seorang lulusan perguruan tinggi memang diharuskan paham dalam tataran teori serta praktis, dan apabila kemudian muncul kegagapan seperti yang dialami oleh sani (Lampost, 29/1) karena tidak bisa langsung kerja, atau tidak bisa menerapkannya dimasyarakat seperti yang diungkapan kalla (lampost, 29/1), hal itu disebabkan karena orang tersebut salah dalam mengambil rencana strategi pendidikan yang akan ditempuhnya.

Selain itu juga dengan memahami teori tidak berarti tidak tahu terapan empirisnya, hal ini didasarkan bahwa sebuah teori merupakan rumusan data data empiris yang terjadi dialam nyata, data-data empiris tersebut dikumpulkan, diuji dan formulasikan dalam sebuah teori.

Misalnya saja seseorang ingin menghitung luas sebuah lapangan bola, apabila tidak mengetahui teorinya tentu saja orang akan mengukurnya tiap-tiap meter perseginya, hal yang berbeda akan terjadi bila orang tersebut tahu akan teori untuk mengukur luas lapangan tersebut, maka ia akan cukup mengukur panjang lapangan dan kemudian mengalikannya dengan lebar lepangan, maka akan didapatkan sebuah luas lapangan sepak bola.

Selain itu, saran kalla agar mahasiswa jangan hanya mengurusi demonstrasi saja tetapi juga harus mengurusi kuliahnya dan pengabdian pada masyarakat, merupakan usulan yang usang alias katro, mengutip ungkapan pelawak tukul.
Semua orang dinegeri ini yang pernah mengecap bangku kuliah tentu tahu bahwa sehebat-hebatnya seorang mahasiswa berdemonstrasi apabila dia tidak belajar dan nilainya rendah maka ia akan drop out juga.

Dan apabila dikatakan mahasiswa tidak mengabdi kepada masyarakat maka akan sangat aneh mengingat berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat tidak disebuat sebagai sebuah pengabdian, lalu saya kemudian berpikir pengabdian seperti apakah yang dimaksud kalla.

Saya pun kemudian bernggapan bahwa ungkapan dan usulan yang dilontarkan wakil presiden cum pengusaha ini hanyalah sekedar gurauan saja seperti yang biasa kita lihat dilayar televisi tiap malam senin.

Untuk itulah kita semua khususnya mahasiswa tidak usah heran, karena mungkin besok-besok kita akan semakin sering mendengar gurauan dari wakil presiden republik indonesia yang terhormat.
Bukan begitu Bapak Jarwo Kuat..

Dosen nyambi, Mahasiswa telantar

Berbicara mengenai dosen yang mempunyai pekerjaan sampingan, saya pikir ada alasan yang harus kita akui bersama, yaitu kesejahteraan ekonomi dosen tersebut.
Kesejahteraan ekonomi ini berkaitan dengan gaji yang mereka peroleh sebagai dosen.
Seorang dosen dengan gelar doktor pernah berujar bahwa gaji pokoknya hanya berkisar antara 2-3 juta rupiah, padahal menurutnya dengan gelar dan keahlian yang ia punya ia bisa mempunyai penghasilan yang lebih besar dari itu di jenis pekerjaan lain.
Ketidak sesuaian gaji inilah yang kemudian menjadi alasan utama mengapa banyak dosen yang mempunyai pekerjaan sampingan.

Mereka beranggapan bahwa kecilnya gaji yang diterima sebagai dosen dengan status pegawai negeri sipil, tidak dapat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang semakin komplek dan mahal.
Berdasarkan pada pengamatan yang saya lakukan pada beberapa dosen yang saya kenal, dosen yang bisa dikatakan sukses dari sisi penghasilan adalah dosen yang memiliki pekerjaan sampingan entah itu jenis Multi level marketing, Konsultan kepakaran atau wirausaha.

Hal ini bisa dilihat dikampus unversitas negeri seperti unila, Seorang dosen yang memiliki pekerjaan sampingan dibandingkan dengan dosen yang hanya berkutat dengan teori dikampus, sangat terlihat perbedaannya.
Seorang dosen dengan gelar doktor sehari hari berangkat kekampus hanya dengan mobil dinas kijang lama dan mengajar hanya dengan proyektor transparan, berbeda dengan seorang dosen yang bergelar master yang berangkat kekampus dengan sedan yang lumayan baru serta mengajar dengan laptop, perbedaan ini sungguh kontras terjadi.

Perbedaan yang tidak sehat seperti ini, akan semakin mendorong terjadinya kesenjangan sosial yang kemudian mengakibatkan kecemburuan sosial, sehingga akan menjadi alasan yang mendorong semakin dibenarkannya seorang dosen memiliki pekerjaan sampingan.

Memiliki pekerjaan sampingan sebenarnya tidak akan menjadi masalah ketika dosen tersebut mampu membagi prioritas dan waktu antara pekerjaannya sebagai dosen dan pekerjaan sampingannya tersebut.
Dan yang lazim terjadi adalah terabaikannya pekerjaannya sebagai dosen karena lebih sibuk mengurusi urusan “luar”.

Dan bila hal ini terjadi, maka yang menjadi korban adalah mahasiswa, dosen tersebut akan jarang memberi materi kuliah dan mahasiswa akan susah untuk menghubungi dosennya untuk meminta bimbingan skripsi atau meminta persetujuan rencana studi.
Maka yang muncul kemudian adalah semakin lamanya mahasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya.

Saya kemudian jadi teringat pada ucapan seorang dosen, dosen tersebut berujar ia bisa saja mengambil sebuah proyek dari sebuah instansi pemerintah, yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah dan waktu pengerjaannya pun tidak memakan waktu yang lama, ketimbang memberi kuliah di kelas yang menyita waktu dan pikiran. Akan tetapi demi sebuah hal yang berguna dimasa depan, ia memilih memberi kuliah.
Terlepas benar atau tidaknya hal yang dikatakan dosen saya tadi, setidaknya hal tersebut patut kita renungkan terutama buat bapak dan ibu dosen terhormat.

Thursday, January 11, 2007

OTOP OTOP JADOEL