Monday, January 29, 2007

Dosen nyambi, Mahasiswa telantar

Berbicara mengenai dosen yang mempunyai pekerjaan sampingan, saya pikir ada alasan yang harus kita akui bersama, yaitu kesejahteraan ekonomi dosen tersebut.
Kesejahteraan ekonomi ini berkaitan dengan gaji yang mereka peroleh sebagai dosen.
Seorang dosen dengan gelar doktor pernah berujar bahwa gaji pokoknya hanya berkisar antara 2-3 juta rupiah, padahal menurutnya dengan gelar dan keahlian yang ia punya ia bisa mempunyai penghasilan yang lebih besar dari itu di jenis pekerjaan lain.
Ketidak sesuaian gaji inilah yang kemudian menjadi alasan utama mengapa banyak dosen yang mempunyai pekerjaan sampingan.

Mereka beranggapan bahwa kecilnya gaji yang diterima sebagai dosen dengan status pegawai negeri sipil, tidak dapat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang semakin komplek dan mahal.
Berdasarkan pada pengamatan yang saya lakukan pada beberapa dosen yang saya kenal, dosen yang bisa dikatakan sukses dari sisi penghasilan adalah dosen yang memiliki pekerjaan sampingan entah itu jenis Multi level marketing, Konsultan kepakaran atau wirausaha.

Hal ini bisa dilihat dikampus unversitas negeri seperti unila, Seorang dosen yang memiliki pekerjaan sampingan dibandingkan dengan dosen yang hanya berkutat dengan teori dikampus, sangat terlihat perbedaannya.
Seorang dosen dengan gelar doktor sehari hari berangkat kekampus hanya dengan mobil dinas kijang lama dan mengajar hanya dengan proyektor transparan, berbeda dengan seorang dosen yang bergelar master yang berangkat kekampus dengan sedan yang lumayan baru serta mengajar dengan laptop, perbedaan ini sungguh kontras terjadi.

Perbedaan yang tidak sehat seperti ini, akan semakin mendorong terjadinya kesenjangan sosial yang kemudian mengakibatkan kecemburuan sosial, sehingga akan menjadi alasan yang mendorong semakin dibenarkannya seorang dosen memiliki pekerjaan sampingan.

Memiliki pekerjaan sampingan sebenarnya tidak akan menjadi masalah ketika dosen tersebut mampu membagi prioritas dan waktu antara pekerjaannya sebagai dosen dan pekerjaan sampingannya tersebut.
Dan yang lazim terjadi adalah terabaikannya pekerjaannya sebagai dosen karena lebih sibuk mengurusi urusan “luar”.

Dan bila hal ini terjadi, maka yang menjadi korban adalah mahasiswa, dosen tersebut akan jarang memberi materi kuliah dan mahasiswa akan susah untuk menghubungi dosennya untuk meminta bimbingan skripsi atau meminta persetujuan rencana studi.
Maka yang muncul kemudian adalah semakin lamanya mahasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya.

Saya kemudian jadi teringat pada ucapan seorang dosen, dosen tersebut berujar ia bisa saja mengambil sebuah proyek dari sebuah instansi pemerintah, yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah dan waktu pengerjaannya pun tidak memakan waktu yang lama, ketimbang memberi kuliah di kelas yang menyita waktu dan pikiran. Akan tetapi demi sebuah hal yang berguna dimasa depan, ia memilih memberi kuliah.
Terlepas benar atau tidaknya hal yang dikatakan dosen saya tadi, setidaknya hal tersebut patut kita renungkan terutama buat bapak dan ibu dosen terhormat.

2 Comments:

  • At 8:05 PM, Blogger Rohmat Sarman said…

    Salam kenal, saya minta izin, Blog Taufik saya review di http://www.rohmat.web.id/?p=52 , TQ

     
  • At 6:19 PM, Blogger Ahmad Kurnia El-Qorni said…

    Anda luar biasa sekali, memang begitulah kondisi para mahaguru kita, boleh deh biaya pendidikan semakin tinggi, tapi soal salary dosen, woow!
    Jangan salahkan beta begitu yang penting kewajiban jangan dilupakan ?
    Ahmad kurnia
    http://akur-stbajia.blogspot.com

     

Post a Comment

<< Home