Kampung Payang, Laut yang tertimbun
Banjir akibat meluapnya air laut dan berkurangnya pendapat kian menghantui warga.
Suasana khas kampung nelayan begitu terasa ketika mulai memasuki Kampung Payang Kelurahan Sukaraja RT 001 RW 02 Lingkungan IV Teluk Betung, Bandarlampung. Gang gang becek terlihat diantara rumah rumah yang saling berhimpitan, tawa dan canda anak anak kecil yang sedang bermain terdengar begitu riuh. Tak jauh dari tempat anak anak itu bermain tampak ibu ibu yang sedang asyik ngerumpi di depan rumah mereka yang halamannya merangkap tempat menjemur pakaian dan gang.
Lebih kedalam, menyusuri gang sempit yang becek tampak deretan rumah semi permanen berdiri kokoh di atas timbunan tanah. Rumah rumah itu berpondasikan batu cadas putih. Pada barisan lainnya tampak beberapa rumah berdinding papan dengan atap seng, berdiri di atas tiang tiang kayu yang dipancangkan di tepi pantai. Ya, jika kita berjalan kearah selatan, maka kita sedang menuju ke tepi pantai.
Di bawah rumah rumah di tepi pantai itu terdapat tumpukan sampah rumah tangga, kebanyakan plastik sisa deterjen menumpuk tak karuan berbaur dengan tumpukan ikan ikan kecil yang dibuang oleh nelayan karena tak laku dipasaran.
Sekelompok anak kecil dengan riangnya mandi sambil bermain air di pinggir laut yang warna airnya hitam pekat akibat tercampur lumpur. Mereka seolah tidak peduli dengan warna itu.
Tak jauh dari tempat anak anak tadi bermain, Sutaryo (52 tahun) seorang nelayan jaring tampak sibuk menambal perahu kayunya yang bocor dengan bahan campuran semen putih dan air. Ia menambal perahu tersebut di tepi pantai yang warna pasirnya tak jauh berbeda dengan warna air laut, hitam pekat.
“Permisi Pak, sedang sibuk nih?” Sapa saya.
“Ah, enggak, cuma benerin ini,” ujarnya seraya menujuk perahu dengan ujung kuasnya.
Seraya meneruskan pekerjaan, Sutaryo bercerita bahwa ia sudah tinggal di daerah ini sejak 1983. “Sebelumnya saya tinggal di Kupang dan waktu itu daerah ini masih jarang rumah,” ujarnya seraya menunjuk sebuah rumah semi permanen di depannya. Rumah yang bagian bawahnya tembok sedangkan bagian atasnya masih ditutup dengan papan. Rumah itu berdiri diatas sebuah pondasi batu cadas putih yang tingginya sekitar dua meter dari permukaan pantai.
Sutaryo menuturkan, untuk membangun rumahnya itu, ia menimbun pantai dengan membuat pondasi dari batu karang dan karung plastik yang berisi pasir. Batu tersebut menurutnya ada yang diambil sendiri dari laut dan ada yang di beli dari pedagang batu. ”Belinya di Bukit Kunyit,” terangnya. Lebih jauh Sutaryo menambahkan bahwa untuk menimbun pantai dengan luas sepuluh meter kubik, menghabiskan sekitar dua puluh truk batu. “Waktu itu harganya masih delapan puluh ribu per truk. Jadi totalnya sekitar dua jutaan lah.”
Belakangan ini Sutaryo sudah mulai menimbun pantai lagi untuk menambah luas rumahnya. Ia dibantu anak lelakinya membuat patok patok dari kayu dan mulai menimbun karung karung yang berisi pasir. ”Rencananya sih untuk anak saya ini,” ujarnya seraya menunjuk ke anaknya yang bernama Asep (27 tahun).
Untuk kebutuhan hidup seperti air, Sutaryo mengaku tidak perlu repot untuk mencukupi kebutuhan air bersih, sebab tak jauh dari rumahnya terdapat sebuah sumur umum yang airnya dapat digunakan untuk mencuci dan mandi. Sementara untuk minum, Sutaryo lebih senang membeli.
Hal yang sama dialami oleh Supari (70 tahun), kakek yang sudah tinggal sejak 1975 itu menghabiskan lebih dari tiga puluh truk untuk menimbun pantai seluas dua puluh kali dua puluh lima meter kubik yang akan dijadikan pondasi rumah tempat tinggalnya bersama anak dan cucu.
Sama seperti Sutaryo, ia juga sudah mematok pantai untuk ditimbun. “Ini lagi mau nimbun lagi,” terangnya seraya menunjukkan patok patok kayu yang sudah terpancang di sebelah rumahnya.
Di daerah itu, tak hanya Sutaryo dan Sapuri saja yang menimbun pantai untuk dijadikan tempat tinggal. Ibrahim (40 tahun) menerangkan daerah pemukiman yang berada di tepi pantai itu semuanya merupakan tanah timbunan.
Ibrahim yang rumahnya tepat berada di depan sebuah musholla dan di sebelah kirinya ada timbunan tanah yang siap dipakai buat mendirikan rumah, mengaku sejak tahun 90-an, ia menimbun pantai untuk dijadikan rumah karena tak punya uang untuk membeli tanah di tempat lain. Ia juga menambahkan di perkampungan ini kerap terjadi banjir, banjir itu kebanyakan karena melupanya air laut dan masuk ke daratan bekas timbunan yang sekarang telah berubah menjadi perkampungan. ”Tahun kemarin, sampai pinggang,” terangnya.
Di kelurahan tersebut memang sebagian warganya adalah nelayan. Mereka umunya tinggal di sepanjang pesisir pantai dan membangun rumah di bekas timbunan. Kebanyakan warga mengaku tak pernah dilarang untuk menimbun pantai tersebut, dan ketika isu tentang penggusuran yang akan dilakukan pemerintah kota mulai merebak, mereka tenang tenang saja, seolah tak peduli dengan isu tersebut. “Tiap tahun pasti ada saja itu gusuran, tapi sampai sekarang nggak pernah kejadian,” ujar Supari.
Seperti Supari, Ibrahim juga menganggap penggusuran itu hanya isu. Hal senada dibenarkan oleh Sapri, ketua rukun warga (RW) setempat. Menurutnya orang bebas mematok pantai untuk ditimbun sekuat dia punya dana, tak ada larangan dari pihak RW maupun kelurahan. ”Namanya juga tanah laut,” terangnya.
Masih menurut Sapri, dulu memang pernah ada semacam surat ijin dari pihak kelurahan untuk melakukan penimbunan pantai yang akan dijadikan tempat tinggal, namun sekarang surat itu sudah tidak ada lagi. Selain itu, warga yang tinggal di tepi pantai sampai sekarang pun masih dikenai pajak.
***
Maraknya penimbunan baik yang dilakukan oleh warga maupun oleh perusahaan perusahaan yang ada di tepi pantai, membawa dampak terhadap penghasilan para nelayan yang tinggal si daerah itu, pengaruh yang langsung terasa dirasakan oleh nelayan payang dan nelayan jaring.
Menurut Sutaryo, sejak banyaknya penimbunan di pesisir pantai penghasilannya sebagai nelayan jala dari tahun ketahun semakin berkurang. Sebelum banyak warga yang tinggal dan menimbun pantai, ia bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp80 ribu per hari, kini hanya bisa mengantongi Rp20 ribu per hari, bahkan kadang tidak dapat sama sekali.
Dengan pekerjaan sebagai nelayan jala, Sutaryo dituntut untuk lebih bersabar lagi dalam mencari penghasilan, karena daerah tempat biasa ia menjala ikan sudah banyak yang berubah dan semakin sempit akibat dari banyaknya pantai ditimbun. Bahkan kini Sutaryo menjala ikan sampai daerah Panjang dengan alasan sudah tidak ada tempat lagi untuk menjala.
Sutaryo pun menerangkan bahwa dulu dengan pekerjaannya sebagai nelayan jaring, ia dapat menyekolahkan anaknya hingga lulus STM, akan tetapi semenjak banyaknya penimbunan ia hanya bisa menyekolahkan anaknya hingga SMP saja. “Itupun sudah susah, kerja dari subuh pulang tengah malam.”
Berbeda dengan bapaknya, Asep mencari ikan dengan cara memasang bubu, yaitu perangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu. Bubu tersebut biasanya diletakkan di pinggir pinggir batu karang tempat ikan biasa mencari makanan
Dalam sehari Asep biasanya memasang bubu sebanyak tiga puluh buah. Dari jumlah itu yang terisi hanya setengahnya. Penghasilan yang diperoleh Asep dalam sehari sekitar Rp10 ribu. “Ya nggak pasti sih, kadang lebih kadang malah nggak dapet sama sekali,” ujarnya.
Menurut Asep, berkurangnya jumlah tangkapan ikan yang didapat karena sekarang ini banyak batu karang yang diambil untuk menimbun tanah di pinggir pantai. Selain itu, sampah yang semakin hari semakin menumpuk juga mempengaruhi pendapatan ikan para nelayan.
Bukan hanya Sutayo dan Asep yang merasakan dampak secara langsung dari penyempitan pantai akibat penimbunan, Karim Husin (55 tahun), pria yang sehari hari bekerja sebagai penarik jala payang juga megaku bahwa dengan banyaknya tanah di pesisir pantai yang ditimbun, areal tempat ia dan teman temannya menarik payang semakin sempit.
Payang adalah semacam jaring panjang yang bentuknya menyerupai kerucut, bagian ujung jaring menyempit dan lebih dikenal dengan labirin, sepasang tali diikatkan di kedua belah sisi lebarnya, tali itu berguna untuk menarik jaring ke pinggir pantai. Payang itu ditarik oleh sepuluh orang menggunakan semacam tali pinggang yang mempunyai kait.
Penyempitan areal penarikan Payang itu menurut Karim karena adanya penimbunan pantai yang dilakukan oleh restoran Golden Dragon di sebelah kiri dan penimbunan di sebelah kanan yang direncanakan sebagai pelabuhan kapal cepat, sehingga hanya menyisakan areal pantai sepanjang kurang lebih 100 meter. Pihak pengelola restoran Golden Dragon menimbun sampai jarak 50 meter dari bibir pantai dan pihak pelabuhan kapal cepat pun melakukan hal yang sama bahkan 20 meter lebih jauh.
Akibatnya muncul semacam teluk kecil dengan panjang sekitar 100 meter dan mempunyai kedalaman berkisar satu sampai dua setengah meter. Hal inilah yang menurut Karim menjadi penyebab berkurangnya tangkapan ikan, karena jala payang yang kebanyakan dimiliki warga panjangnya hanya sekitar 50 meter, akibatnya jala payang tidak mampu mencapai tengah laut. Maka wajar bila ikan yang berhasil ditangkap pun hanya ikan ikan kecil.
Karim menuturkan sebelum ada penimbunan besar besaran yang dilakukan oleh pihak pengelola restoran Golden dan pihak pelabuhan kapal cepat, dalam sehari ia dan kelompoknya yang berjumlah sebelas orang bisa menarik payang sebanyak tiga kali dan mendapat tangkapan ikan sebanyak lima sampai sebelas ember plastik besar bekas cat tembok.
Karim dan nelayan lainnya mengaku hanya bisa berharap saja menghadapi keadaan yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Akankah orang seperti Karim hanya dapat terus berharap? []
Suasana khas kampung nelayan begitu terasa ketika mulai memasuki Kampung Payang Kelurahan Sukaraja RT 001 RW 02 Lingkungan IV Teluk Betung, Bandarlampung. Gang gang becek terlihat diantara rumah rumah yang saling berhimpitan, tawa dan canda anak anak kecil yang sedang bermain terdengar begitu riuh. Tak jauh dari tempat anak anak itu bermain tampak ibu ibu yang sedang asyik ngerumpi di depan rumah mereka yang halamannya merangkap tempat menjemur pakaian dan gang.
Lebih kedalam, menyusuri gang sempit yang becek tampak deretan rumah semi permanen berdiri kokoh di atas timbunan tanah. Rumah rumah itu berpondasikan batu cadas putih. Pada barisan lainnya tampak beberapa rumah berdinding papan dengan atap seng, berdiri di atas tiang tiang kayu yang dipancangkan di tepi pantai. Ya, jika kita berjalan kearah selatan, maka kita sedang menuju ke tepi pantai.
Di bawah rumah rumah di tepi pantai itu terdapat tumpukan sampah rumah tangga, kebanyakan plastik sisa deterjen menumpuk tak karuan berbaur dengan tumpukan ikan ikan kecil yang dibuang oleh nelayan karena tak laku dipasaran.
Sekelompok anak kecil dengan riangnya mandi sambil bermain air di pinggir laut yang warna airnya hitam pekat akibat tercampur lumpur. Mereka seolah tidak peduli dengan warna itu.
Tak jauh dari tempat anak anak tadi bermain, Sutaryo (52 tahun) seorang nelayan jaring tampak sibuk menambal perahu kayunya yang bocor dengan bahan campuran semen putih dan air. Ia menambal perahu tersebut di tepi pantai yang warna pasirnya tak jauh berbeda dengan warna air laut, hitam pekat.
“Permisi Pak, sedang sibuk nih?” Sapa saya.
“Ah, enggak, cuma benerin ini,” ujarnya seraya menujuk perahu dengan ujung kuasnya.
Seraya meneruskan pekerjaan, Sutaryo bercerita bahwa ia sudah tinggal di daerah ini sejak 1983. “Sebelumnya saya tinggal di Kupang dan waktu itu daerah ini masih jarang rumah,” ujarnya seraya menunjuk sebuah rumah semi permanen di depannya. Rumah yang bagian bawahnya tembok sedangkan bagian atasnya masih ditutup dengan papan. Rumah itu berdiri diatas sebuah pondasi batu cadas putih yang tingginya sekitar dua meter dari permukaan pantai.
Sutaryo menuturkan, untuk membangun rumahnya itu, ia menimbun pantai dengan membuat pondasi dari batu karang dan karung plastik yang berisi pasir. Batu tersebut menurutnya ada yang diambil sendiri dari laut dan ada yang di beli dari pedagang batu. ”Belinya di Bukit Kunyit,” terangnya. Lebih jauh Sutaryo menambahkan bahwa untuk menimbun pantai dengan luas sepuluh meter kubik, menghabiskan sekitar dua puluh truk batu. “Waktu itu harganya masih delapan puluh ribu per truk. Jadi totalnya sekitar dua jutaan lah.”
Belakangan ini Sutaryo sudah mulai menimbun pantai lagi untuk menambah luas rumahnya. Ia dibantu anak lelakinya membuat patok patok dari kayu dan mulai menimbun karung karung yang berisi pasir. ”Rencananya sih untuk anak saya ini,” ujarnya seraya menunjuk ke anaknya yang bernama Asep (27 tahun).
Untuk kebutuhan hidup seperti air, Sutaryo mengaku tidak perlu repot untuk mencukupi kebutuhan air bersih, sebab tak jauh dari rumahnya terdapat sebuah sumur umum yang airnya dapat digunakan untuk mencuci dan mandi. Sementara untuk minum, Sutaryo lebih senang membeli.
Hal yang sama dialami oleh Supari (70 tahun), kakek yang sudah tinggal sejak 1975 itu menghabiskan lebih dari tiga puluh truk untuk menimbun pantai seluas dua puluh kali dua puluh lima meter kubik yang akan dijadikan pondasi rumah tempat tinggalnya bersama anak dan cucu.
Sama seperti Sutaryo, ia juga sudah mematok pantai untuk ditimbun. “Ini lagi mau nimbun lagi,” terangnya seraya menunjukkan patok patok kayu yang sudah terpancang di sebelah rumahnya.
Di daerah itu, tak hanya Sutaryo dan Sapuri saja yang menimbun pantai untuk dijadikan tempat tinggal. Ibrahim (40 tahun) menerangkan daerah pemukiman yang berada di tepi pantai itu semuanya merupakan tanah timbunan.
Ibrahim yang rumahnya tepat berada di depan sebuah musholla dan di sebelah kirinya ada timbunan tanah yang siap dipakai buat mendirikan rumah, mengaku sejak tahun 90-an, ia menimbun pantai untuk dijadikan rumah karena tak punya uang untuk membeli tanah di tempat lain. Ia juga menambahkan di perkampungan ini kerap terjadi banjir, banjir itu kebanyakan karena melupanya air laut dan masuk ke daratan bekas timbunan yang sekarang telah berubah menjadi perkampungan. ”Tahun kemarin, sampai pinggang,” terangnya.
Di kelurahan tersebut memang sebagian warganya adalah nelayan. Mereka umunya tinggal di sepanjang pesisir pantai dan membangun rumah di bekas timbunan. Kebanyakan warga mengaku tak pernah dilarang untuk menimbun pantai tersebut, dan ketika isu tentang penggusuran yang akan dilakukan pemerintah kota mulai merebak, mereka tenang tenang saja, seolah tak peduli dengan isu tersebut. “Tiap tahun pasti ada saja itu gusuran, tapi sampai sekarang nggak pernah kejadian,” ujar Supari.
Seperti Supari, Ibrahim juga menganggap penggusuran itu hanya isu. Hal senada dibenarkan oleh Sapri, ketua rukun warga (RW) setempat. Menurutnya orang bebas mematok pantai untuk ditimbun sekuat dia punya dana, tak ada larangan dari pihak RW maupun kelurahan. ”Namanya juga tanah laut,” terangnya.
Masih menurut Sapri, dulu memang pernah ada semacam surat ijin dari pihak kelurahan untuk melakukan penimbunan pantai yang akan dijadikan tempat tinggal, namun sekarang surat itu sudah tidak ada lagi. Selain itu, warga yang tinggal di tepi pantai sampai sekarang pun masih dikenai pajak.
***
Maraknya penimbunan baik yang dilakukan oleh warga maupun oleh perusahaan perusahaan yang ada di tepi pantai, membawa dampak terhadap penghasilan para nelayan yang tinggal si daerah itu, pengaruh yang langsung terasa dirasakan oleh nelayan payang dan nelayan jaring.
Menurut Sutaryo, sejak banyaknya penimbunan di pesisir pantai penghasilannya sebagai nelayan jala dari tahun ketahun semakin berkurang. Sebelum banyak warga yang tinggal dan menimbun pantai, ia bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp80 ribu per hari, kini hanya bisa mengantongi Rp20 ribu per hari, bahkan kadang tidak dapat sama sekali.
Dengan pekerjaan sebagai nelayan jala, Sutaryo dituntut untuk lebih bersabar lagi dalam mencari penghasilan, karena daerah tempat biasa ia menjala ikan sudah banyak yang berubah dan semakin sempit akibat dari banyaknya pantai ditimbun. Bahkan kini Sutaryo menjala ikan sampai daerah Panjang dengan alasan sudah tidak ada tempat lagi untuk menjala.
Sutaryo pun menerangkan bahwa dulu dengan pekerjaannya sebagai nelayan jaring, ia dapat menyekolahkan anaknya hingga lulus STM, akan tetapi semenjak banyaknya penimbunan ia hanya bisa menyekolahkan anaknya hingga SMP saja. “Itupun sudah susah, kerja dari subuh pulang tengah malam.”
Berbeda dengan bapaknya, Asep mencari ikan dengan cara memasang bubu, yaitu perangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu. Bubu tersebut biasanya diletakkan di pinggir pinggir batu karang tempat ikan biasa mencari makanan
Dalam sehari Asep biasanya memasang bubu sebanyak tiga puluh buah. Dari jumlah itu yang terisi hanya setengahnya. Penghasilan yang diperoleh Asep dalam sehari sekitar Rp10 ribu. “Ya nggak pasti sih, kadang lebih kadang malah nggak dapet sama sekali,” ujarnya.
Menurut Asep, berkurangnya jumlah tangkapan ikan yang didapat karena sekarang ini banyak batu karang yang diambil untuk menimbun tanah di pinggir pantai. Selain itu, sampah yang semakin hari semakin menumpuk juga mempengaruhi pendapatan ikan para nelayan.
Bukan hanya Sutayo dan Asep yang merasakan dampak secara langsung dari penyempitan pantai akibat penimbunan, Karim Husin (55 tahun), pria yang sehari hari bekerja sebagai penarik jala payang juga megaku bahwa dengan banyaknya tanah di pesisir pantai yang ditimbun, areal tempat ia dan teman temannya menarik payang semakin sempit.
Payang adalah semacam jaring panjang yang bentuknya menyerupai kerucut, bagian ujung jaring menyempit dan lebih dikenal dengan labirin, sepasang tali diikatkan di kedua belah sisi lebarnya, tali itu berguna untuk menarik jaring ke pinggir pantai. Payang itu ditarik oleh sepuluh orang menggunakan semacam tali pinggang yang mempunyai kait.
Penyempitan areal penarikan Payang itu menurut Karim karena adanya penimbunan pantai yang dilakukan oleh restoran Golden Dragon di sebelah kiri dan penimbunan di sebelah kanan yang direncanakan sebagai pelabuhan kapal cepat, sehingga hanya menyisakan areal pantai sepanjang kurang lebih 100 meter. Pihak pengelola restoran Golden Dragon menimbun sampai jarak 50 meter dari bibir pantai dan pihak pelabuhan kapal cepat pun melakukan hal yang sama bahkan 20 meter lebih jauh.
Akibatnya muncul semacam teluk kecil dengan panjang sekitar 100 meter dan mempunyai kedalaman berkisar satu sampai dua setengah meter. Hal inilah yang menurut Karim menjadi penyebab berkurangnya tangkapan ikan, karena jala payang yang kebanyakan dimiliki warga panjangnya hanya sekitar 50 meter, akibatnya jala payang tidak mampu mencapai tengah laut. Maka wajar bila ikan yang berhasil ditangkap pun hanya ikan ikan kecil.
Karim menuturkan sebelum ada penimbunan besar besaran yang dilakukan oleh pihak pengelola restoran Golden dan pihak pelabuhan kapal cepat, dalam sehari ia dan kelompoknya yang berjumlah sebelas orang bisa menarik payang sebanyak tiga kali dan mendapat tangkapan ikan sebanyak lima sampai sebelas ember plastik besar bekas cat tembok.
Karim dan nelayan lainnya mengaku hanya bisa berharap saja menghadapi keadaan yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Akankah orang seperti Karim hanya dapat terus berharap? []



0 Comments:
Post a Comment
<< Home