AYAH
AYAH
Dengan perlahan ku buka pintu kamar, sesosok perempuan terlihat sedang duduk di tepi ranjang membelakangi pintu.
“ Bu’e lagi ngapain ? ” tanyaku pada perempuan yang kupanggil bu’e singkatan dari ibu.
“ gak ngapa ngapain,” balasnya seraya memalingkan wajahnya ke arahku dan tangannya menyeka matanya.
“ Bu’e nangis ya,”
“ gak kok, bu’e nggak apa apa,”
“ Bu’e nggak usah bohong aku tahu kok, aku kan dah bilang bu’e jangan di kamar aja, main main aja yuk biar gak stress,”
“ bener kok, bu’e nggak apa apa,”
aku pun duduk disebelahnya, mengambil album foto yang sedari tadi dipegang bu’e. album foto berwarna putih itu pun kubuka satu persatu, foto foto keluarga tersimpan dengan rapi didalamnya.
“ ini foto kamu waktu kecil, nakal banget kamu ini kecilnya,”
“ kamu ini cuma takut sama ayah,”
“ iya, ayah dulu seing marah sama aku,”
kami pun saling bercerita tentang masa lalu, senyum pun merekah di bibir bu’e, setelah sekian lama murung, akhirnya senyum itu kembali merekah.
“ bu’e ingat nggak, waktu aku mijitin ayah terakhir kalinya, aku waktu itu ngerasain ada yang aneh dari biasanya, waktu itu ayah minta dipijitin dikamar, padahalkan biasanya di ruang tengah sambil duduk di kursi panjang dan juga waktu itu ayah minta maaf sama aku, katanya selama ini galak dan keras sama aku, waktu itu juga ayah minta aku sering sering pulang,”
“ kasian ayahmu, ayah mu tuh sebenarnya udah capek sama penyakitnya, bu’e aja yang terus nyemangati dia agar bisa kuat begitu,”
Bu’e pun kemudian memelukku dan kemudian kurasakan ada yang menetes di bahuku.
“ maafin bu’e ya ruk, gak bilang bilang kamu,”
“ gak apa apa kok, yang udah ya udah gak usah dibahas lagi,”
“ ke metro aja yuk, aku dah lama gak makan di rumah makan kesukaan bu’e” ajakku mencoba menghibur bu’e dengan mengajaknya ketempat biasa kami makan bersama.
“ ya udah yuk, bu’e siap siap dulu ya,” bu’e melepaskan pelukannya dan aku pun keluar kamar, memanggil sijono untuk menyiapkan mobil.
****
Hari sudah mulai gelap, ketika kumasuki pekarangan rumah, sudah enam bulan aku tinggalkan rumah ini, rumah ini terlihat tak terawat, cat merahyang melekat di pagar depan tampak mulai mengelupas, plafon teras tampak beberapa telah hilang tripleknya, pun dengan rumput ditaman tampak tumbuh lebat, kolam ikan yang dulu penuh berisi ikan kini bagaikan ladang yang tandus.
“ assalamu alaikum,” ucapku begitu memasuki pintu.
“ walaikum salam, oh mas faruk tho, masuk mas,” ujar ijah, kaget karena tak menyangka yang datang adalah aku.
“ kok sepi jah, pada kemana,” tanyaku heran.
“ ibu ama mbak dewi ke surabaya, udah semingu ini, yang dirumah cuma mas setyo,”
“ kok tumben di surabaya lama, ada apa emang, ngobatin ayah ya ? “
“ lho, mas faruk belum tahu tho, kalo bapak dah nggak ada”
“ apa, apa kamu bilang,”
“ jadi mas faruk belum tahu, kalo bapak dah nggak ada, “
“ belum, ” seruku kaget
“ kemarin baru aja yasinan empat puluh hari,”
“ ha, empat puluh hari ? “ Bagaikan orang bodoh, aku hanya hanya bisa bengong mendengar penuturan ijah.
“ lho, faruk tho, kapan datang,” seru seseorang yang ternyata adalah om budi, adik bu’e.
“ om, apa bener ayah dah nggak ada ? “ tanyaku tak percaya.
“ asstaghfirullah, iya kamu belum tahu ya ? “
Om budi pun kemudian menceritakan tentang kematian ayah, darinya kuketahi bahwa ayah meninggal setelah penyakit jantungnya kumat, pemicunya adalah karena ayah jatuh dari motor karena ditabrak oleh pengendara motor lainnya yang karena ngebut tak bisa mengendalikan motornya dan kemudian menabarak ayah yang kebetulan sedang mengendarai motor sehabis menghadiri pengajian.
“ kenapa gak pake mobil aja, kan ada ?”
“ ayahmu tuh ngotot naik motor, katanya dah lama nggak naik motor,”
“ ya, kamu tahu sendiri kalo ayahmu ngotot tuh gimana,”
“ ayahmu tuh pelan, cuma karena ditabarak dari belakang, jadi jatuh terus penyakitnya kumat, “
“ Ibumu sampai marah besar sama yang nabrak, terus bapaknya dateng kesini minta maaf sampai mohon mohon malah,”
“ kok aku gak dikabari,” ujarku jengkel karena tak diberi kabar.
“ sebenarnya aku tuh mau ngabarin, Cuma gak tahu kamu tinggal dimana? ”
“ kan deket sih rumah sakit ama kos ku,”
“ ya kalo gak tahu gimana ? “
“ terus kapan bu’e ke surabayanya ? “
“ seminggu yang lalu, bareng dewi,”
“ bang setyonya mana ? ”
“ lagi ke metro, tahu ngapain kesana ? “
“ ayah dikubur dimana,”
“ di Pondok, sebelahan sama nenek dan eyang,”
langsung aku bangkit dan keluar rumah,
“ mau kemana ruk ? “
“ ke pondok,”
dengan menumpang ojek, aku menuju Pondok Pesantren tempat ayah dimakamkan, Pondok Pesantren tersebut terletak di pinggir jalan lintas timur sumatera membelah areal persawahan dan pemukiman penduduk.
Pondok pesantren itu sendiri berjarak kira kira 100 meter dari jalan raya, jalan masuknya sendiri belum diaspal dan harus melewat areal perkebunan kelapa yang di selingi tanaman singkong.
Kompleknya sendri terdiri dari beberapa bangunan yang belum lama dibanguna, yaitu sebuah masjid, sebuah madrasah, sebuah aula, sebuah asrama dan rumah bagi pak kiyai
Dulu sebelum ada bangunan Pondok pesantren ini, daerah ini merupakan areal perkebunan kelapa dan singkong, aku pun ingat dulu ketika aku kecil aku sering ikut ayah untuk memanen buah kelapa, ya ayah ku dulu merupakan salah satu pengusaha sukses didaerah ini berkat perkebunan kelapa dan hasil bumi lainya seperti lada dan kemiri.
Di daerah inilah kemudian Ayah kemudian membangun sebuah mushala, sebagai tempat sholat dan mengaji bagi para karyawannya yang kebanyakan adalah masyarakat sekitar.
Karena terus berkembang, ayah kemudian mendatangkan seorang kiyai dan membangun sebuah pondok pesantren, dan kini pondok pesantren itu kemudian berkembang pesat dengan puluhan santrinya.
Setelah membayar ojek, aku pun bergegas ke belakang masjid, tiga buah gundukan tanah terhampar didepanku, terletak di depan mihrab masjid yang baru selesai dibangun. Gundukan tanah itu terlihat terawat dengan dikelilingi susunan batu bata merah. Aku pandangi satu persatu gundukan itu, makam ayah terlihat diapit oleh dua makam lainnya yaitu makam nenek disebelah kiri dan makam eyang putri disebelah kanannya.
Akupun kemudian berjongkok didepan makam ayah, tanpa terasa air matapun menetes, akupun menangis.
“ ayah maafkan aku, aku telah banyak membuatmu kecewa,”
“ ayah maafkan aku, aku telah banyak berdosa terhadapmu,”
“ ayah maafkan aku, aku sering melawan kehendakmu,”
“ ayah maafkan aku yang telah membuatmu marah, hingga penyakitmu sering kambuh, “
“ ayah maafkan aku…………………,”
“ ayah apakah kau memafkan aku…….. ,”
“ ayah, rasanya baru kemarin, aku melihat ayah bahagia melihat aku diterima di universitas negeri,”
“ rasanya baru kemarin, aku mijitin kaki ayah yang rapuh,”
“ rasanya baru kemarin ayah marahin aku karena gak pernah pulang,”
“ rasanya baru kemarin ayah melarang aku jadi PNS,”
“ rasanya baru kemarin ayah…….. ,”
aku tak tahu harus bilang apa apa lagi, aku merasa seperti orang bodoh yang harus mengikuti sebuah skenario tanpa tahu harus bagaimana, hatiku pun bertanya tanya mungkin ini yang disebut dunia itu kejam.
Ah dari dulu dunia memang kejam.
Aku pun kalap, emosiku serasa ingin meledak, Batu bata yang tadi rapi tersusun, sekarang telah berantakan terkena tendangan kakiku, para santri beramai ramai memegangiku, aku melawan tapi usahaku sia sia, mereka terlalu banyak, kaki pun terasa perih, darah mengucur dari jari kakiku membasahi sendal gunung yang kupakai. aku kemudian dibawa kekantor pondok pesantren.
“ yang sabar ya mas faruk, ikhlasin saja,” ujar kiyai Sholehudin, pengasuh pondok pesantren mencoba menenangkanku.
“ kalo mas faruk ikhlas, ayah mas faruk pasti tenang dialam barzah,”
“ istighfar, istighfar, mas faruk ini lagi diuji kesabarannya,”
aku pun mengambil segelas teh, tenggorokanku terasa perih, teh pun aku habiskan dalam sekali teguk, aku teringat bahwa aku belum sholat maghrib kulihat jam waktu maghrib masih tersisa kira kira sepuluh menit , dengan bergegas aku melangkah ke tempat wudhu, aku pun mulai berwudhu, dinginnya air wudhu merasuk kedalam pori poriku mendinginkan hati dan pikiranku yang panas, kemudian aku melangkah masuk kedalam masjid, aku agar lebih tenang akupun sholat.
Selesai sholat dan berdoa, aku keluar masjid, kudengar suara para santri mengaji diaula.
“ faruk,“ kulihat bang setyo bangkit dari duduknya di teras masjid.
“ bang setyo, “ segera kurangkul satu satunya kaka lakilaki ku itu.
“ yang sabar ya, ikhlasin saja,”
kami pun mengobrol panjang lebar diteras masjid.
“ udah yuk, pulang,” ajak bang setyo.
Aku hanya mengangguk saja, kami pun pulang. []
BANDAR LAMPUNG, 3 JUNI 2006
Dengan perlahan ku buka pintu kamar, sesosok perempuan terlihat sedang duduk di tepi ranjang membelakangi pintu.
“ Bu’e lagi ngapain ? ” tanyaku pada perempuan yang kupanggil bu’e singkatan dari ibu.
“ gak ngapa ngapain,” balasnya seraya memalingkan wajahnya ke arahku dan tangannya menyeka matanya.
“ Bu’e nangis ya,”
“ gak kok, bu’e nggak apa apa,”
“ Bu’e nggak usah bohong aku tahu kok, aku kan dah bilang bu’e jangan di kamar aja, main main aja yuk biar gak stress,”
“ bener kok, bu’e nggak apa apa,”
aku pun duduk disebelahnya, mengambil album foto yang sedari tadi dipegang bu’e. album foto berwarna putih itu pun kubuka satu persatu, foto foto keluarga tersimpan dengan rapi didalamnya.
“ ini foto kamu waktu kecil, nakal banget kamu ini kecilnya,”
“ kamu ini cuma takut sama ayah,”
“ iya, ayah dulu seing marah sama aku,”
kami pun saling bercerita tentang masa lalu, senyum pun merekah di bibir bu’e, setelah sekian lama murung, akhirnya senyum itu kembali merekah.
“ bu’e ingat nggak, waktu aku mijitin ayah terakhir kalinya, aku waktu itu ngerasain ada yang aneh dari biasanya, waktu itu ayah minta dipijitin dikamar, padahalkan biasanya di ruang tengah sambil duduk di kursi panjang dan juga waktu itu ayah minta maaf sama aku, katanya selama ini galak dan keras sama aku, waktu itu juga ayah minta aku sering sering pulang,”
“ kasian ayahmu, ayah mu tuh sebenarnya udah capek sama penyakitnya, bu’e aja yang terus nyemangati dia agar bisa kuat begitu,”
Bu’e pun kemudian memelukku dan kemudian kurasakan ada yang menetes di bahuku.
“ maafin bu’e ya ruk, gak bilang bilang kamu,”
“ gak apa apa kok, yang udah ya udah gak usah dibahas lagi,”
“ ke metro aja yuk, aku dah lama gak makan di rumah makan kesukaan bu’e” ajakku mencoba menghibur bu’e dengan mengajaknya ketempat biasa kami makan bersama.
“ ya udah yuk, bu’e siap siap dulu ya,” bu’e melepaskan pelukannya dan aku pun keluar kamar, memanggil sijono untuk menyiapkan mobil.
****
Hari sudah mulai gelap, ketika kumasuki pekarangan rumah, sudah enam bulan aku tinggalkan rumah ini, rumah ini terlihat tak terawat, cat merahyang melekat di pagar depan tampak mulai mengelupas, plafon teras tampak beberapa telah hilang tripleknya, pun dengan rumput ditaman tampak tumbuh lebat, kolam ikan yang dulu penuh berisi ikan kini bagaikan ladang yang tandus.
“ assalamu alaikum,” ucapku begitu memasuki pintu.
“ walaikum salam, oh mas faruk tho, masuk mas,” ujar ijah, kaget karena tak menyangka yang datang adalah aku.
“ kok sepi jah, pada kemana,” tanyaku heran.
“ ibu ama mbak dewi ke surabaya, udah semingu ini, yang dirumah cuma mas setyo,”
“ kok tumben di surabaya lama, ada apa emang, ngobatin ayah ya ? “
“ lho, mas faruk belum tahu tho, kalo bapak dah nggak ada”
“ apa, apa kamu bilang,”
“ jadi mas faruk belum tahu, kalo bapak dah nggak ada, “
“ belum, ” seruku kaget
“ kemarin baru aja yasinan empat puluh hari,”
“ ha, empat puluh hari ? “ Bagaikan orang bodoh, aku hanya hanya bisa bengong mendengar penuturan ijah.
“ lho, faruk tho, kapan datang,” seru seseorang yang ternyata adalah om budi, adik bu’e.
“ om, apa bener ayah dah nggak ada ? “ tanyaku tak percaya.
“ asstaghfirullah, iya kamu belum tahu ya ? “
Om budi pun kemudian menceritakan tentang kematian ayah, darinya kuketahi bahwa ayah meninggal setelah penyakit jantungnya kumat, pemicunya adalah karena ayah jatuh dari motor karena ditabrak oleh pengendara motor lainnya yang karena ngebut tak bisa mengendalikan motornya dan kemudian menabarak ayah yang kebetulan sedang mengendarai motor sehabis menghadiri pengajian.
“ kenapa gak pake mobil aja, kan ada ?”
“ ayahmu tuh ngotot naik motor, katanya dah lama nggak naik motor,”
“ ya, kamu tahu sendiri kalo ayahmu ngotot tuh gimana,”
“ ayahmu tuh pelan, cuma karena ditabarak dari belakang, jadi jatuh terus penyakitnya kumat, “
“ Ibumu sampai marah besar sama yang nabrak, terus bapaknya dateng kesini minta maaf sampai mohon mohon malah,”
“ kok aku gak dikabari,” ujarku jengkel karena tak diberi kabar.
“ sebenarnya aku tuh mau ngabarin, Cuma gak tahu kamu tinggal dimana? ”
“ kan deket sih rumah sakit ama kos ku,”
“ ya kalo gak tahu gimana ? “
“ terus kapan bu’e ke surabayanya ? “
“ seminggu yang lalu, bareng dewi,”
“ bang setyonya mana ? ”
“ lagi ke metro, tahu ngapain kesana ? “
“ ayah dikubur dimana,”
“ di Pondok, sebelahan sama nenek dan eyang,”
langsung aku bangkit dan keluar rumah,
“ mau kemana ruk ? “
“ ke pondok,”
dengan menumpang ojek, aku menuju Pondok Pesantren tempat ayah dimakamkan, Pondok Pesantren tersebut terletak di pinggir jalan lintas timur sumatera membelah areal persawahan dan pemukiman penduduk.
Pondok pesantren itu sendiri berjarak kira kira 100 meter dari jalan raya, jalan masuknya sendiri belum diaspal dan harus melewat areal perkebunan kelapa yang di selingi tanaman singkong.
Kompleknya sendri terdiri dari beberapa bangunan yang belum lama dibanguna, yaitu sebuah masjid, sebuah madrasah, sebuah aula, sebuah asrama dan rumah bagi pak kiyai
Dulu sebelum ada bangunan Pondok pesantren ini, daerah ini merupakan areal perkebunan kelapa dan singkong, aku pun ingat dulu ketika aku kecil aku sering ikut ayah untuk memanen buah kelapa, ya ayah ku dulu merupakan salah satu pengusaha sukses didaerah ini berkat perkebunan kelapa dan hasil bumi lainya seperti lada dan kemiri.
Di daerah inilah kemudian Ayah kemudian membangun sebuah mushala, sebagai tempat sholat dan mengaji bagi para karyawannya yang kebanyakan adalah masyarakat sekitar.
Karena terus berkembang, ayah kemudian mendatangkan seorang kiyai dan membangun sebuah pondok pesantren, dan kini pondok pesantren itu kemudian berkembang pesat dengan puluhan santrinya.
Setelah membayar ojek, aku pun bergegas ke belakang masjid, tiga buah gundukan tanah terhampar didepanku, terletak di depan mihrab masjid yang baru selesai dibangun. Gundukan tanah itu terlihat terawat dengan dikelilingi susunan batu bata merah. Aku pandangi satu persatu gundukan itu, makam ayah terlihat diapit oleh dua makam lainnya yaitu makam nenek disebelah kiri dan makam eyang putri disebelah kanannya.
Akupun kemudian berjongkok didepan makam ayah, tanpa terasa air matapun menetes, akupun menangis.
“ ayah maafkan aku, aku telah banyak membuatmu kecewa,”
“ ayah maafkan aku, aku telah banyak berdosa terhadapmu,”
“ ayah maafkan aku, aku sering melawan kehendakmu,”
“ ayah maafkan aku yang telah membuatmu marah, hingga penyakitmu sering kambuh, “
“ ayah maafkan aku…………………,”
“ ayah apakah kau memafkan aku…….. ,”
“ ayah, rasanya baru kemarin, aku melihat ayah bahagia melihat aku diterima di universitas negeri,”
“ rasanya baru kemarin, aku mijitin kaki ayah yang rapuh,”
“ rasanya baru kemarin ayah marahin aku karena gak pernah pulang,”
“ rasanya baru kemarin ayah melarang aku jadi PNS,”
“ rasanya baru kemarin ayah…….. ,”
aku tak tahu harus bilang apa apa lagi, aku merasa seperti orang bodoh yang harus mengikuti sebuah skenario tanpa tahu harus bagaimana, hatiku pun bertanya tanya mungkin ini yang disebut dunia itu kejam.
Ah dari dulu dunia memang kejam.
Aku pun kalap, emosiku serasa ingin meledak, Batu bata yang tadi rapi tersusun, sekarang telah berantakan terkena tendangan kakiku, para santri beramai ramai memegangiku, aku melawan tapi usahaku sia sia, mereka terlalu banyak, kaki pun terasa perih, darah mengucur dari jari kakiku membasahi sendal gunung yang kupakai. aku kemudian dibawa kekantor pondok pesantren.
“ yang sabar ya mas faruk, ikhlasin saja,” ujar kiyai Sholehudin, pengasuh pondok pesantren mencoba menenangkanku.
“ kalo mas faruk ikhlas, ayah mas faruk pasti tenang dialam barzah,”
“ istighfar, istighfar, mas faruk ini lagi diuji kesabarannya,”
aku pun mengambil segelas teh, tenggorokanku terasa perih, teh pun aku habiskan dalam sekali teguk, aku teringat bahwa aku belum sholat maghrib kulihat jam waktu maghrib masih tersisa kira kira sepuluh menit , dengan bergegas aku melangkah ke tempat wudhu, aku pun mulai berwudhu, dinginnya air wudhu merasuk kedalam pori poriku mendinginkan hati dan pikiranku yang panas, kemudian aku melangkah masuk kedalam masjid, aku agar lebih tenang akupun sholat.
Selesai sholat dan berdoa, aku keluar masjid, kudengar suara para santri mengaji diaula.
“ faruk,“ kulihat bang setyo bangkit dari duduknya di teras masjid.
“ bang setyo, “ segera kurangkul satu satunya kaka lakilaki ku itu.
“ yang sabar ya, ikhlasin saja,”
kami pun mengobrol panjang lebar diteras masjid.
“ udah yuk, pulang,” ajak bang setyo.
Aku hanya mengangguk saja, kami pun pulang. []
BANDAR LAMPUNG, 3 JUNI 2006



0 Comments:
Post a Comment
<< Home