Monday, January 29, 2007

“Gurauan” Jusuf Kalla

Lagi-lagi jusuf kalla berulah, setelah beberapa waktu lalu mengeluarkan kritik pedas kepada kalangan guru di indonesia, kini sasaran kritik wakil presiden cum pengusaha ini diarahkan ke mahasiswa. Seperti dikutip Lampost (29/1/07), kalla mengkritik kalangan mahasiswa yang menurutnya hanya tahu teori dan demonstrasi saja, ia mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena sistem pendidikan di perguruan tinggi yang lebih banyak dihabiskan dikampus ketimbang terjun langsung di masyarakat.

Sehingga kemudian lulusan yang dihasilkan kemudian tidak bisa berbuat apa-apa dimasyakarat untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya dikampus.
Kalla beranggapan bahwa mahasiswa harus tahu praktek dan penerapannya dimasyarakat.
Sekiranya kalla memahami arti perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan, saya pikir ia takkan mengeluarkan kritik konyol ini.

Dalam sistem pendidikan di indonesia dan lazimnya di dunia, ada dua tujuan yang hendak dituju yaitu menghasilkan lulusan yang siap kerja dan lulusan yang meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk lebih memahami secara teori.
Kedua tujuan ini diterjemahkan kedalam pembagian-pembagian sekolah, yaitu sekolah kejuruan dan sekolah lanjutan.

Dan sebagai warga negara dengan adanya pilihan tersebut kita sebenarnya kita tinggal memilih kemana hendaknya pendidikan yang akan kita tempuh.
Apabila hendak menjadi lulusan yang siap kerja maka kita dapat memilih pendidikan kejuruan dalam hal ini Sekolah menengah kejuruan (SMK) dan kemudian dilanjutkan dengan progam diploma selepas kita merampungkan pendidikan dasar, dan apabila kita hendak lebih menguasai secara teori dan mendalami kelimuan, maka kita dapat memilih sekolah lanjutan dalam hal ini Sekolah menengah atas dan kemudian dilanjutkan dengan program sarjana kemudian master hingga profesor.

Dari uraian tersebut kita tahu bahwa seorang lulusan perguruan tinggi memang diharuskan paham dalam tataran teori serta praktis, dan apabila kemudian muncul kegagapan seperti yang dialami oleh sani (Lampost, 29/1) karena tidak bisa langsung kerja, atau tidak bisa menerapkannya dimasyarakat seperti yang diungkapan kalla (lampost, 29/1), hal itu disebabkan karena orang tersebut salah dalam mengambil rencana strategi pendidikan yang akan ditempuhnya.

Selain itu juga dengan memahami teori tidak berarti tidak tahu terapan empirisnya, hal ini didasarkan bahwa sebuah teori merupakan rumusan data data empiris yang terjadi dialam nyata, data-data empiris tersebut dikumpulkan, diuji dan formulasikan dalam sebuah teori.

Misalnya saja seseorang ingin menghitung luas sebuah lapangan bola, apabila tidak mengetahui teorinya tentu saja orang akan mengukurnya tiap-tiap meter perseginya, hal yang berbeda akan terjadi bila orang tersebut tahu akan teori untuk mengukur luas lapangan tersebut, maka ia akan cukup mengukur panjang lapangan dan kemudian mengalikannya dengan lebar lepangan, maka akan didapatkan sebuah luas lapangan sepak bola.

Selain itu, saran kalla agar mahasiswa jangan hanya mengurusi demonstrasi saja tetapi juga harus mengurusi kuliahnya dan pengabdian pada masyarakat, merupakan usulan yang usang alias katro, mengutip ungkapan pelawak tukul.
Semua orang dinegeri ini yang pernah mengecap bangku kuliah tentu tahu bahwa sehebat-hebatnya seorang mahasiswa berdemonstrasi apabila dia tidak belajar dan nilainya rendah maka ia akan drop out juga.

Dan apabila dikatakan mahasiswa tidak mengabdi kepada masyarakat maka akan sangat aneh mengingat berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat tidak disebuat sebagai sebuah pengabdian, lalu saya kemudian berpikir pengabdian seperti apakah yang dimaksud kalla.

Saya pun kemudian bernggapan bahwa ungkapan dan usulan yang dilontarkan wakil presiden cum pengusaha ini hanyalah sekedar gurauan saja seperti yang biasa kita lihat dilayar televisi tiap malam senin.

Untuk itulah kita semua khususnya mahasiswa tidak usah heran, karena mungkin besok-besok kita akan semakin sering mendengar gurauan dari wakil presiden republik indonesia yang terhormat.
Bukan begitu Bapak Jarwo Kuat..

Dosen nyambi, Mahasiswa telantar

Berbicara mengenai dosen yang mempunyai pekerjaan sampingan, saya pikir ada alasan yang harus kita akui bersama, yaitu kesejahteraan ekonomi dosen tersebut.
Kesejahteraan ekonomi ini berkaitan dengan gaji yang mereka peroleh sebagai dosen.
Seorang dosen dengan gelar doktor pernah berujar bahwa gaji pokoknya hanya berkisar antara 2-3 juta rupiah, padahal menurutnya dengan gelar dan keahlian yang ia punya ia bisa mempunyai penghasilan yang lebih besar dari itu di jenis pekerjaan lain.
Ketidak sesuaian gaji inilah yang kemudian menjadi alasan utama mengapa banyak dosen yang mempunyai pekerjaan sampingan.

Mereka beranggapan bahwa kecilnya gaji yang diterima sebagai dosen dengan status pegawai negeri sipil, tidak dapat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang semakin komplek dan mahal.
Berdasarkan pada pengamatan yang saya lakukan pada beberapa dosen yang saya kenal, dosen yang bisa dikatakan sukses dari sisi penghasilan adalah dosen yang memiliki pekerjaan sampingan entah itu jenis Multi level marketing, Konsultan kepakaran atau wirausaha.

Hal ini bisa dilihat dikampus unversitas negeri seperti unila, Seorang dosen yang memiliki pekerjaan sampingan dibandingkan dengan dosen yang hanya berkutat dengan teori dikampus, sangat terlihat perbedaannya.
Seorang dosen dengan gelar doktor sehari hari berangkat kekampus hanya dengan mobil dinas kijang lama dan mengajar hanya dengan proyektor transparan, berbeda dengan seorang dosen yang bergelar master yang berangkat kekampus dengan sedan yang lumayan baru serta mengajar dengan laptop, perbedaan ini sungguh kontras terjadi.

Perbedaan yang tidak sehat seperti ini, akan semakin mendorong terjadinya kesenjangan sosial yang kemudian mengakibatkan kecemburuan sosial, sehingga akan menjadi alasan yang mendorong semakin dibenarkannya seorang dosen memiliki pekerjaan sampingan.

Memiliki pekerjaan sampingan sebenarnya tidak akan menjadi masalah ketika dosen tersebut mampu membagi prioritas dan waktu antara pekerjaannya sebagai dosen dan pekerjaan sampingannya tersebut.
Dan yang lazim terjadi adalah terabaikannya pekerjaannya sebagai dosen karena lebih sibuk mengurusi urusan “luar”.

Dan bila hal ini terjadi, maka yang menjadi korban adalah mahasiswa, dosen tersebut akan jarang memberi materi kuliah dan mahasiswa akan susah untuk menghubungi dosennya untuk meminta bimbingan skripsi atau meminta persetujuan rencana studi.
Maka yang muncul kemudian adalah semakin lamanya mahasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya.

Saya kemudian jadi teringat pada ucapan seorang dosen, dosen tersebut berujar ia bisa saja mengambil sebuah proyek dari sebuah instansi pemerintah, yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah dan waktu pengerjaannya pun tidak memakan waktu yang lama, ketimbang memberi kuliah di kelas yang menyita waktu dan pikiran. Akan tetapi demi sebuah hal yang berguna dimasa depan, ia memilih memberi kuliah.
Terlepas benar atau tidaknya hal yang dikatakan dosen saya tadi, setidaknya hal tersebut patut kita renungkan terutama buat bapak dan ibu dosen terhormat.

Thursday, January 11, 2007

OTOP OTOP JADOEL

Tuesday, November 28, 2006

Tulisan Jadul

Jalan Berliku Menuju Kursi Dekan

Oleh Taufik Jamil Alfarau


Ruangan Pembantu Dekan I di gedung A fakultas teknik terkunci rapat, dua orang mahasiswa dengan membawa tumpukan map tampak kecewa setelah beberapa kali mencoba membuka pintu tersebut. Mereka agaknya tidak tahu bahwa Ir Mariyanto MT, sang pemilik ruangan tersebut telah menempati ruangan barunya yaitu ruangan dekan yang berada tepat didepan ruangan tersebut, karena menjabat sebagai pejabat sementara (Pjs) dekan fakultas teknik.

Mariyanto menempati kursi kepemimpinan nomor satu di fakultas teknik setelah senat fakultas mengadakan sidang untuk mengisi kursi dekan yang lowong. Berdasarkan hasil rapat senat fakultas teknik yang ditegaskan dengan surat keputusan rektor yang bernomor 213/j26/KP/2004, maka ditunjuklah Mariyanto menjadi Pjs dekan. Mariyanto sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Dekan I,”sampai saat ini saya masih merangkap sebagai PD I,”ujarnya.

Lowongnya kursi dekan di fakultas teknik sebenarnya disebabkan karena dekan terdahulu Ir Anshori Jausal MT, pada tanggal 13 oktober lalu diangkat oleh rektor menempati jabatannya yang baru yaitu pembantu rektor IV,” saya ingin fokus ke jabatan saya sekarang, maka jabatan dekan saya tinggalkan” ujar anshori mantap.

Belum penuhi syarat
Ditunjuknya Mariyanto sebagai Pjs tidak terlepas dari belum diadakannya pemilihan dekan di fakultas teknik. Belum diadakannya pemilihan menurut mariyanto lebih disebabkan karena pada waktu kursi kepemimpinan dekan di teknik ditinggalkan oleh ansory, belum ada dosen yang memenuhi syarat administrasi, salah satu syarat administrasi yang dibutuhkan adalah kredit kumulatif (KUM), ”KUM nya belum 550,”terang mariyanto.

Kredit kumulatif itu menurutnya mutlak dibutuhkan, karena walaupun dosen yang hendak mencalonkan diri menjadi dekan tersebut telah berpangkat lektor kepala,”pak sugiyanto ini sudah lektor kepala, tapi karena KUM nya kurang maka, menunggu KUM nya cukup,” terangnya.

Akan tetapi sekretaris senat universitas lampung, Prof Drs Slamet rusmialdi MS, menjelaskan bahwa dalam surat keputusan rektor yang bernomor No. 1511/J26/KP/2000, tidak disebutkan seorang dosen harus mempunyai kredit kumulatif minimal 550. dalam SK rektor tersebut disebutkan persyaratan menjadi dekan selain syarat umum juga terdapat syarat khusus, yang salah satu isinya adalah mempunyai jabatan serendah rendahnya lektor kepala madya, ”kredit kumulatif itu hanya syarat normatik saja,” ujarnya.

Dalam pemilihan dekan di Unila ada dua peraturan yang dipakai, yaitu peraturan menteri dan peraturan Unila. Adanya dua standar itu menurutnya adalah karena peraturan yang dibuat oleh menteri kurang menjelaskan secara lebih rinci, dan unila melalui senat universitas memutuskan untuk menambah beberapa poin yang lebih rinci dan jelas,”itu tak menyalahi peraturan pusat,” terangnya.

Slamet juga menambahkan bahwa peraturan tersebut dibuat agar lebih memudahkan proses pemilihan dekan, karena sebelum ada peraturan tersebut syarat menjadi dekan hanya ditentukan oleh hasil kesepakatan sidang senat fakultas, “ sejak ada aturan ini semua kan jadi jelas,” terangnya.

Slamet juga menambahkan dalam peraturan menteri disebutkan seorang dekan dijabat oleh seorang yang berpangkat lektor kepala,”masih syarat umu saja,” terangnya.
dan hal inilah yang kemudian senat universitas membuat syarat khusus yang elbih sesuai dengan kondisi yang ada di Unila, syarat khusus itu antara lain : dosen tetap difakultas atau di fakultas lain di lingkungan Unila, mempunyai jabatan akademik serendah rendahnya lektor kepala madya, berumur setinggi tingginya 61 tahun pada saat dicalonkan, belum pernah menerima sanksi tertulis dari atasannya dan atau sanksi hukum lain yang resmi, bersedia dicalonkan menjadi dekan dengan pernyataan tertulis.

Belum cukupnya kredit kumulatif inilah yang kemudian membuat para anggota senat fakultas ketika mengadakan rapat pada bulan oktober sepakat mempending proses penjaringan pemilihan sampai ada dosen yang kredit kumulatifnya 550 atau pangkatnya mencukupi.

Menurut mariyanto sebenarnyanya senat fakultas bisa saja menarik seorang calon dekan dari luar fakultas,”asalkan masih dosen unila,” ujarnya.
Akan tetapi senat falultas masih mengharapkan ada dosen dari dalam fakultas teknik sendiri untuk memimpin fakultas teknik, karena dengan dari fakultas sendiri dekan yang terpilih nantinya akan mengetahui keadaan di fakultas yang nanti akan ia pimpin,” untuk itu kita masih menunggu,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh dekan terdahulu anshori jausal, menurutnya bila nanti fakultas teknik dipimpin orang dari luar fakultas teknik ia khawatir orang tersebut tidak berkompeten dalam bidang teknik, ” masa, teknik dipimpin orang yang nggak ngerti teknik,” ujarnya berapi api.

Fakultas teknik sendiri pernah dipimpin oleh seorang yang bukan dari dalam fakultas teknik, yaitu ketika dibawah kepemimpinan Prof Dr Ir muhajir Utomo MSc yang berasal dari fakultas pertanian, dan baru pada akhir tahun 1998, ketika muhajir di angkat menjadi rektor, kursi dekan diserahkan kepada dosen yang berasal dari falkultas teknik yaitu Ir Anshori Jausal MT,”itu sah sah saja,” ujar slamet.

Salmet juga menambahkan bahwa jika suatu fakultas belum ada dosen yang mencukupi syaratnya untuk menjabat dekan, maka fakultas tersebut dapat mencalonkan dosen dari luar fakultas.

Menurut Mariyanto tertunda pemilihan dekan selain disebabkan karena belum adanya dosen di fakultas teknik yang kredit kumulatifnya memenuhi syarat juga dikarenakan belum adanya surat keterangan dari rektor,” kalau sudah keluar maka kita langsung sidang, dan kalau tanpa itu kita tak punya dasar,” ujarnya yakin.

Surat keterangan rektor itu diperlukan guna menjelaskan bahwa ketiga dosen tersebut seedang dalam proses kenaikan pangkat dan juga kredit kumulatifnya sudah lebih dari 550. Ketiga dosen yang dimaksud mariyanto sedang dalam proses kenaikan pangkat adalah Drs Sugiyanto MT, I Wayan diana ST MT dan Ir Susetyo Hartanto MT.


Mekanisme pemilihan

Dalam SK rektor No.1511/J26/KP/2000 tentang persyaratan, tata tertib pemilihan dan tata cara pengusulan calon dekan, disebutkan bahwa mekanisme pemilihan dekan dimulai dengan proses penjaringan bakal calon dekan yang dilakukan oleh senat fakultas. Dalam proses penjaingan ini, senat fakultas memeriksa persyaratan persyaratan menjadi dekan, baik persyaratan umum maupun persyaratan khusus. Setelah dinyatakan lolos, dosen yang bersangkutan kemudian diminta kesediaannya oleh senat fakultas baik lisan maupun tertulis, ”mereka mengisi blanko kesediaan,”terang mariyanto.

Setelah diperoleh nama nama bakal calon dekan, senat fakultas kemudian mengadakan rapat nominasi. Dalam rapat nominasi ditentukan bakal calon yang akan menjadi calon dekan melalui pemberian suara tertulis dan tertutup dengan sistem satu orang anggota senat satu suara. Selanjutnya senat fakultas menentukan sebanyak banyaknya tiga orang dan sekurang kurangnya dua orang calon dekan berdasarkan perolehan suara.

Tiga orang atau dua orang calon dekan tersebut kemudian diminta menjabarkan visi misi, rencana strategis, dan rencana operasionalnya dihadapan anggota senat fakultas.
Anggota senat fakultas kemudian memberikan pertanyaan pertanyaan mengenai visi misi dan program kerja calon dekan, dan setelah itu diadakan pemilihan dekan secara tertutup dan tertulis dengan ketetuan satu orang anggota senat satu suara.

Di fakultas teknik sendiri saat ini, anggota senat fakultas berjumlah sebelas orang,”tadinya anggotanya dua belas, Cuma karena pak ansory sekarang jadi PR IV maka tinggal sebelas,” tambah Mariyanto yakin.

Setelah diadakan pemilihan dekan, senat fakultas kemudian mensahkan calon dekan yang memperoleh suara terbanyak sebagai dekan terpilih. Dan jika calon tersebut memperoleh suara sama banyak, maka diadakan pemilihan ulang sampai terpilih satu orang dengan suara terbanyak.

Setelah dekan terpilih disahkan oleh senat fakultas, maka senat fakultas kemudian membuat berita acara pemilihan calon dekan yang ditanda tangani oleh ketua dan sekretaris senat fakultas.
Kemudian nama dekan terpilih diajukan ke senat universitas untuk disahkan setelah terlebih dahulu senat universitas mengadakan rapat dan memeriksa kelengkapan administrasinya,”dalam hal ini senat universitas hanya memeriksa syarat normatif saja,” ujar Slamet.

Yang termasuk syarat normatif adalah syarat syarat umum dan syarat khusus,”seperti bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, melihat kemampuan kepemimpinan dan sebagainya,” tambah Slamet.

Setelah diperiksa dan disahkan oleh senat universitas, maka dekan terpilih diangkat oleh rektor dengan surat keputusan rektor.

Demo pilih langsung
Demonstrasi juga sempat mewarnai proses pemilihan dekan di fakultas teknik, demonstrasi tersebut dilakukan oleh ratusan mahasiswa fakultas teknik yang tergabung Forum Penyelamat Teknik (FPT). Dalam demonstrasi yang dilakukan di depan gedung A, pada tanggal 12 oktober 2003 itu mereka menuntut pemilihan dekan secara langsung, “selama ini proses pemilihan dekan cenderung tertutup dan tidak transparan,” ujar adi mahasiswa teknik sipil 98 yang menjadi juru bicara FPT.

Adi juga menambahkan bahwa selain dipilih langsung, juga ada sarana yang mempertemukan mahasiswa dengan calon calon dekan untuk berdiskusi dalam merencanakan visi dan misi. “Karena kebijakan mereka juga berhubungan dengan mahasiswa,” lanjutnya.

Mereka kemudian diterima oleh pembantu dekan III FT, Drs Sugiyanto MT.
Dalam pertemuan itu, Sugiyanto kemudian berjanji dan menanda tangani surat pernyataan yang intinya akan membawa aspirasi mahasiswa ke tingkat dekanat untuk kemudian akan diajukan ke pihak rektorat.

Akan tetapi menurut sugiyanto selama ini di Unila tidak ada peraturan yang menjelaskan bahwa seorang dekan dapat dipilih langsung oleh mahasiswa. Hal senada juga diungkapkan oleh ansory jausal,”dekan dipilih oleh senat fakultas, bukan oleh mahasiswa,”terangnya.

Slamet juga menambahkan bahwa proses pemilihan dekan di unila tidak dialkuakn secra langsung karena selama ini belum mempunyai perangkat untuk menunjuang pemilihan dekan secra langsung dan kalau ingin dilakukan secara langsung menurutnya akan membutuhkan waktu yang lama, “seperti pemilihan presiden, perlu waktu yang nggak sebentar,” terangnya.

Akan tetapi ia tidak meragukan apabila nantinya dekan diunila dipiliha secara langsung,”bahakn rektor pun mungkin,” tambahnya bersemangat.

Investor lokal kurang minati Pasar Modal

Perkembangan pasar modal dan membaiknya kondisi perekonomian indonesia ternyata tidak membuat investor lokal mau untuk berinvestasi di pasar modal. Hal ini didasarkan pada data yang dikeluarkan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) yaitu sebesar 0,6 juta investor atau 0,2 pesen dari jumlah keseluruhan penduduk indonesia, “ Dibandingkan negara lain, indonesia masih kecil ,” ujar Gontor, perwakilan dari Bapepam.

Menurut Gontor, hal yang membuat para investor lokal kurang berminat untuk berinvestasi dipasar modal adalah masih adanya kecenderungan untuk menyimpan uangnya di bank ketimbang berinvestasi di pasar modal, “Masyarakat juga kurang mengenal dunia pasar modal,” tambahnya.

Gontor juga menambahkan bahwa kuatnya perekonomian sebuah negara dapat dilihat dari kuatnya pasar modal yang ada, apabila pasar modal tersebut ambruk maka perekonomian pun akan ambruk, “ Contohnya waktu indonesia krisis ekonomi,” ujarnya.

Sementara Yoyo, perwakilan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) menambahkan bahwa berinvestasi di pasar modal memiliki beberapa keunggulan ketimbang menabung di bank, seperti likuiditas, transaparansi, dividen, capital gain, dan varitif, “kita dapat memperoleh capital gain yang besar,” ujarnya.

Yoyo juga menambahkan bahwa untuk mendapatkan capital gain atau keuntungan yang besar tersebut, harus dibedakan antara berinvestasi atau spekulasi. Investasi merupakan sesuatu yang jelas dan penuh perhitungan, sementara spekulasi lebih mengandalkan peruntungan atau nasib, ”jadi gak asal asalan,” ujarnya.

Sementara Azir, perwakilan dari Bursa Efek Surabaya (BES) menjelaskan bahwa, dalam pasar modal komoditas yang diperdagangkan tidak hanya saham tetapi juga obligasi, warrant dan right issue. “kalo di BES yang diperdagangkan obligasi,” ujarnya.

Hal diatas merupakan hasil dari seminar nasional yang diadakan oleh kelompok studi paar modal (KSPM) di Hotel Marcopolo Kamis (16/11). Menurut ketua pelaksana Ahmad reza nugroho, acara yang bertema Pasar modal sebagai investasi prospektif masyarakat indonesia masa kini dan masa depan tersebut tidak dihadiri oleh pimpinan dari lembaga yang diundang seperti Bapepam, BEJ, BES, “ Tapi mereka di wakilkan,” ujarnya.[]

Monday, October 30, 2006

LEBARAN DI KAMPUNG !!

Lebaran di kampung, gak ada bedanya dengan lebaran di mana aja, yang beda cuma kita bisa ngupul bareng keluarga. lebaran kali ini alhamdullilah keluarga ku bisa ngumpul semua, kakakku yang tinggal di mesuji sumatra selatan pulang, dan kakak-kakakku yang tinggal di kalianda lampung selatan juga ngumpul pada hari kedua, pun halnya dengan kakakku yang tinggal di bandar lampung pulang kerumah beserta istri dan anaknya di hari kedua setelah berlebaran terlebih dahulu di serang banten, tempat mertuanya.

karena semua berkumpul, maka rumahku yang biasanya sepi mendadak ramai dengan canda tawa keponakan-keponakanku.

tingkah mereka benar benar bikin kepala ku pusing, karena mereka kelewat aktif dan agak nakal, mereka berlari lari, berkelahi, menangis dan yang buat sebel adalah kebiasan mereka menggigit punggungku.

keramaian ini tentunya membuat abah dan mama ku senang, maklum biasanya mereka hanya tinggal berdua dirumah. hal ini dikarenakan semua anak anaknya tak ada yang tinggal bersama.
mbak ku yang pertama dan yang kedua tinggal dikalianda, kakakku yang ketiga tinggal di bandar lampung, mbakku yang keempat tinggal dimesuji sumsel, sedangkan aku tinggal tinggal di bandar lampung.

setelah makan makan, minum minum, akhirnya jadi juga pergi ke sadar sriwijaya di hari ketiga, kesadar kali ini untuk pertemuan keluarga besar dari mbah, seperti biasa aku lebih memilih naik mobil kakak ku, sebenarnya ada satu motor yang menganggur, tapi kali ini aku ingin memfoto foto selama perjalanan, jadilah kami berangkat, tiga motor, satu mobil, BTW BANYAK JUGA KELUARGA GW.

Tuesday, September 26, 2006

Mahasiswa Idealis?

Seorang teman bilang, bahwa sekarang mahasiswa sudah tidak idealis, apatis, hedonistis, fragmatis dan cenderung kapitalis. Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi yang tiap hari bergulat dengan angka dan teori teori ekonomi. Agak susah mencerna istilah-istilah yang semuanya berakhiran is itu. Namun sekedar iseng karna acap kali diteriaki demonstran dengan istilah-istilah serba is, maka tertarik juga untuk tahu.

Dimulai dari kamus besar bahasa indonesia yang disusun Drs Kamisa, ada lima kata yang berhubugan dengan kata idealis: ide, ideal, idealis, idealisme, idealistis. Kelimanya mempunyai induk kata bernama Ide, yang artinya gagasan atau pikiran, kemudian berkembang menjadi ideal: gagasan atau pikiran yang diinginkan, lalu idealis yang lebih kepada orang yang mempunyai gagasan atau pikiran itu, dan berkembang lagi menjadi idealisme: sebuah faham filsafat yang menganggap bahwa gagasan atau pikiran yang dinginkan tersebut merupakan hal yang benar, terakhir idalistis yang lebih menekankan kepada kata sifat untuk menuju ideal atau sifat menuju yang dicita citakan.

Merujuk arti di kamus itu, kiranya sedikit janggal bila orator demontrasi atau kawan saya yang bilang bahwa “sekarang ini mahasiswa sudah tidak idealis.” Karna jika demikian arti pernyataan itu adalah: “sekarang ini mahasiswa sudah bukan orang yang memiliki gagasan dan pikiran. Atau bisa di artikan mahasiswa sekarang sudah tidak punya cita cita yang dinginkan.” Pertanyaan kemudian, benarkah demikian?

Setiap manusia pasti punya ide (gagasan atau pikiran) dan pasti Ide itu suatu hal yang di cita citakan (Ideal). Pun halnya dengan mahasiswa, sebagai manusia yang telah diberi kesempatan untuk belajar diperguruan tinggi tentunya mahasiswa mempunyai cita cita yang diinginkan atau gagasan dan pikiran.

Gagasan dan cita cita tersebut bisa sangat beragam bentuknya, salah satu contohnya adalah bila kita mengikuti misi yang dibuat oleh universitas, mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan studinya tepat waktu dan mempunyai indeks prestasi akademik yang sesuai standar. Hal ini akan sama kiranya bila kita bertanya pada orang tua kita, orang tua pasti akan mengharapkan anaknya dapat lulus cepat dan kemudian bisa bekerja dengan gaji yang cukup. Tentu akan beragam hasilnya jika, setiap kepala mahasiswa di beri pertanyaan itu. Ada mahasiswa yang kuliah karena ingin bekerja dengan gaji yang layak, ada yang sekedar menuruti kemauan orang tua, ada yang ingin sekedar mencari tempat nongkrong saja dan lain sebagainya.

Artinya, orator demonstrasi dan kawan yang mengugat banyaknya mahasiswa yang tidak idealis. Berarti sedang menyempitkan makna kata idealis itu sendiri. Karna tidak setiap mahasiswa langsung setuju dengan makna idealis versi kawan saya dan orator demontrasi itu.

Penyempitan makna inilah yang kemudian memunculkan faksi faksi dikalangan mahasiswa, dan kemudian muncul istilah, mahasiswa idealis dan mahasiswa hedonis. Faksi faksi ini kemudian saling menjatuhkan satu sama lainnya dan saling acuh tak acuh.

Contohnya ketika Pemira tahun lalu, beberapa gubernur fakultas dan Presiden BEM terpilh secara aklamasi. Kalangan yang menyebut dirinya idealis mengklim bahwa penyebab adanya aklamasi adalah karena mahasiswa telah kehilangan jati dirinya sebagai social control dan agent of change. Sedangkan di kafe kampus atau di pojok gedung kuliah, model rambut dan gaya berbusana terkini menjadi topik obrolan.

Terlepas dari konflik yang terjadi, menurut saya tak perlu ada sebutan sebutan seperti mahasiswa idealis dan lain sebagainya karena ukuran idealis atau ideal berbeda antar satu orang dengan orang yang lainya, ideal menurut saya belum tentu ideal menurut teman saya.

Akan tetapi yang terpenting menurut saya tentang kata idealis adalah konsistensi, sejauh mana orang atau mahasiswa tersebut konsisiten dengan gagasannnya yang dianggapnya benar. Bila seorang mahasiswa menggangap bahwa berorganisasi, atau aktif dalam memperjuangkan nasib rakyat tanpa pamrih itu dianggapnya benar atau ideal maka ia akan melakukan hal tersebut sepenuh hati tanpa harus berbuah tujuannya walaupun banyak hal yang memaksanya untuk berbuah. Dan bila seorang mahasiswa menganggap bahwa gaya hidup konsumtif, dan hedon itu sesuai dengan gagasan dan ideal menurut dia, kita tak perlu mencap dia tidak idealis karena sekali lagi ideal menurut kita belum tentu ideal menurut orang lain. []

Kampung Payang, Laut yang tertimbun

Banjir akibat meluapnya air laut dan berkurangnya pendapat kian menghantui warga.

Suasana khas kampung nelayan begitu terasa ketika mulai memasuki Kampung Payang Kelurahan Sukaraja RT 001 RW 02 Lingkungan IV Teluk Betung, Bandarlampung. Gang gang becek terlihat diantara rumah rumah yang saling berhimpitan, tawa dan canda anak anak kecil yang sedang bermain terdengar begitu riuh. Tak jauh dari tempat anak anak itu bermain tampak ibu ibu yang sedang asyik ngerumpi di depan rumah mereka yang halamannya merangkap tempat menjemur pakaian dan gang.

Lebih kedalam, menyusuri gang sempit yang becek tampak deretan rumah semi permanen berdiri kokoh di atas timbunan tanah. Rumah rumah itu berpondasikan batu cadas putih. Pada barisan lainnya tampak beberapa rumah berdinding papan dengan atap seng, berdiri di atas tiang tiang kayu yang dipancangkan di tepi pantai. Ya, jika kita berjalan kearah selatan, maka kita sedang menuju ke tepi pantai.

Di bawah rumah rumah di tepi pantai itu terdapat tumpukan sampah rumah tangga, kebanyakan plastik sisa deterjen menumpuk tak karuan berbaur dengan tumpukan ikan ikan kecil yang dibuang oleh nelayan karena tak laku dipasaran.

Sekelompok anak kecil dengan riangnya mandi sambil bermain air di pinggir laut yang warna airnya hitam pekat akibat tercampur lumpur. Mereka seolah tidak peduli dengan warna itu.

Tak jauh dari tempat anak anak tadi bermain, Sutaryo (52 tahun) seorang nelayan jaring tampak sibuk menambal perahu kayunya yang bocor dengan bahan campuran semen putih dan air. Ia menambal perahu tersebut di tepi pantai yang warna pasirnya tak jauh berbeda dengan warna air laut, hitam pekat.

“Permisi Pak, sedang sibuk nih?” Sapa saya.
“Ah, enggak, cuma benerin ini,” ujarnya seraya menujuk perahu dengan ujung kuasnya.
Seraya meneruskan pekerjaan, Sutaryo bercerita bahwa ia sudah tinggal di daerah ini sejak 1983. “Sebelumnya saya tinggal di Kupang dan waktu itu daerah ini masih jarang rumah,” ujarnya seraya menunjuk sebuah rumah semi permanen di depannya. Rumah yang bagian bawahnya tembok sedangkan bagian atasnya masih ditutup dengan papan. Rumah itu berdiri diatas sebuah pondasi batu cadas putih yang tingginya sekitar dua meter dari permukaan pantai.

Sutaryo menuturkan, untuk membangun rumahnya itu, ia menimbun pantai dengan membuat pondasi dari batu karang dan karung plastik yang berisi pasir. Batu tersebut menurutnya ada yang diambil sendiri dari laut dan ada yang di beli dari pedagang batu. ”Belinya di Bukit Kunyit,” terangnya. Lebih jauh Sutaryo menambahkan bahwa untuk menimbun pantai dengan luas sepuluh meter kubik, menghabiskan sekitar dua puluh truk batu. “Waktu itu harganya masih delapan puluh ribu per truk. Jadi totalnya sekitar dua jutaan lah.”

Belakangan ini Sutaryo sudah mulai menimbun pantai lagi untuk menambah luas rumahnya. Ia dibantu anak lelakinya membuat patok patok dari kayu dan mulai menimbun karung karung yang berisi pasir. ”Rencananya sih untuk anak saya ini,” ujarnya seraya menunjuk ke anaknya yang bernama Asep (27 tahun).

Untuk kebutuhan hidup seperti air, Sutaryo mengaku tidak perlu repot untuk mencukupi kebutuhan air bersih, sebab tak jauh dari rumahnya terdapat sebuah sumur umum yang airnya dapat digunakan untuk mencuci dan mandi. Sementara untuk minum, Sutaryo lebih senang membeli.

Hal yang sama dialami oleh Supari (70 tahun), kakek yang sudah tinggal sejak 1975 itu menghabiskan lebih dari tiga puluh truk untuk menimbun pantai seluas dua puluh kali dua puluh lima meter kubik yang akan dijadikan pondasi rumah tempat tinggalnya bersama anak dan cucu.

Sama seperti Sutaryo, ia juga sudah mematok pantai untuk ditimbun. “Ini lagi mau nimbun lagi,” terangnya seraya menunjukkan patok patok kayu yang sudah terpancang di sebelah rumahnya.

Di daerah itu, tak hanya Sutaryo dan Sapuri saja yang menimbun pantai untuk dijadikan tempat tinggal. Ibrahim (40 tahun) menerangkan daerah pemukiman yang berada di tepi pantai itu semuanya merupakan tanah timbunan.

Ibrahim yang rumahnya tepat berada di depan sebuah musholla dan di sebelah kirinya ada timbunan tanah yang siap dipakai buat mendirikan rumah, mengaku sejak tahun 90-an, ia menimbun pantai untuk dijadikan rumah karena tak punya uang untuk membeli tanah di tempat lain. Ia juga menambahkan di perkampungan ini kerap terjadi banjir, banjir itu kebanyakan karena melupanya air laut dan masuk ke daratan bekas timbunan yang sekarang telah berubah menjadi perkampungan. ”Tahun kemarin, sampai pinggang,” terangnya.

Di kelurahan tersebut memang sebagian warganya adalah nelayan. Mereka umunya tinggal di sepanjang pesisir pantai dan membangun rumah di bekas timbunan. Kebanyakan warga mengaku tak pernah dilarang untuk menimbun pantai tersebut, dan ketika isu tentang penggusuran yang akan dilakukan pemerintah kota mulai merebak, mereka tenang tenang saja, seolah tak peduli dengan isu tersebut. “Tiap tahun pasti ada saja itu gusuran, tapi sampai sekarang nggak pernah kejadian,” ujar Supari.

Seperti Supari, Ibrahim juga menganggap penggusuran itu hanya isu. Hal senada dibenarkan oleh Sapri, ketua rukun warga (RW) setempat. Menurutnya orang bebas mematok pantai untuk ditimbun sekuat dia punya dana, tak ada larangan dari pihak RW maupun kelurahan. ”Namanya juga tanah laut,” terangnya.

Masih menurut Sapri, dulu memang pernah ada semacam surat ijin dari pihak kelurahan untuk melakukan penimbunan pantai yang akan dijadikan tempat tinggal, namun sekarang surat itu sudah tidak ada lagi. Selain itu, warga yang tinggal di tepi pantai sampai sekarang pun masih dikenai pajak.

***
Maraknya penimbunan baik yang dilakukan oleh warga maupun oleh perusahaan perusahaan yang ada di tepi pantai, membawa dampak terhadap penghasilan para nelayan yang tinggal si daerah itu, pengaruh yang langsung terasa dirasakan oleh nelayan payang dan nelayan jaring.

Menurut Sutaryo, sejak banyaknya penimbunan di pesisir pantai penghasilannya sebagai nelayan jala dari tahun ketahun semakin berkurang. Sebelum banyak warga yang tinggal dan menimbun pantai, ia bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp80 ribu per hari, kini hanya bisa mengantongi Rp20 ribu per hari, bahkan kadang tidak dapat sama sekali.

Dengan pekerjaan sebagai nelayan jala, Sutaryo dituntut untuk lebih bersabar lagi dalam mencari penghasilan, karena daerah tempat biasa ia menjala ikan sudah banyak yang berubah dan semakin sempit akibat dari banyaknya pantai ditimbun. Bahkan kini Sutaryo menjala ikan sampai daerah Panjang dengan alasan sudah tidak ada tempat lagi untuk menjala.

Sutaryo pun menerangkan bahwa dulu dengan pekerjaannya sebagai nelayan jaring, ia dapat menyekolahkan anaknya hingga lulus STM, akan tetapi semenjak banyaknya penimbunan ia hanya bisa menyekolahkan anaknya hingga SMP saja. “Itupun sudah susah, kerja dari subuh pulang tengah malam.”

Berbeda dengan bapaknya, Asep mencari ikan dengan cara memasang bubu, yaitu perangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu. Bubu tersebut biasanya diletakkan di pinggir pinggir batu karang tempat ikan biasa mencari makanan

Dalam sehari Asep biasanya memasang bubu sebanyak tiga puluh buah. Dari jumlah itu yang terisi hanya setengahnya. Penghasilan yang diperoleh Asep dalam sehari sekitar Rp10 ribu. “Ya nggak pasti sih, kadang lebih kadang malah nggak dapet sama sekali,” ujarnya.

Menurut Asep, berkurangnya jumlah tangkapan ikan yang didapat karena sekarang ini banyak batu karang yang diambil untuk menimbun tanah di pinggir pantai. Selain itu, sampah yang semakin hari semakin menumpuk juga mempengaruhi pendapatan ikan para nelayan.

Bukan hanya Sutayo dan Asep yang merasakan dampak secara langsung dari penyempitan pantai akibat penimbunan, Karim Husin (55 tahun), pria yang sehari hari bekerja sebagai penarik jala payang juga megaku bahwa dengan banyaknya tanah di pesisir pantai yang ditimbun, areal tempat ia dan teman temannya menarik payang semakin sempit.

Payang adalah semacam jaring panjang yang bentuknya menyerupai kerucut, bagian ujung jaring menyempit dan lebih dikenal dengan labirin, sepasang tali diikatkan di kedua belah sisi lebarnya, tali itu berguna untuk menarik jaring ke pinggir pantai. Payang itu ditarik oleh sepuluh orang menggunakan semacam tali pinggang yang mempunyai kait.

Penyempitan areal penarikan Payang itu menurut Karim karena adanya penimbunan pantai yang dilakukan oleh restoran Golden Dragon di sebelah kiri dan penimbunan di sebelah kanan yang direncanakan sebagai pelabuhan kapal cepat, sehingga hanya menyisakan areal pantai sepanjang kurang lebih 100 meter. Pihak pengelola restoran Golden Dragon menimbun sampai jarak 50 meter dari bibir pantai dan pihak pelabuhan kapal cepat pun melakukan hal yang sama bahkan 20 meter lebih jauh.

Akibatnya muncul semacam teluk kecil dengan panjang sekitar 100 meter dan mempunyai kedalaman berkisar satu sampai dua setengah meter. Hal inilah yang menurut Karim menjadi penyebab berkurangnya tangkapan ikan, karena jala payang yang kebanyakan dimiliki warga panjangnya hanya sekitar 50 meter, akibatnya jala payang tidak mampu mencapai tengah laut. Maka wajar bila ikan yang berhasil ditangkap pun hanya ikan ikan kecil.

Karim menuturkan sebelum ada penimbunan besar besaran yang dilakukan oleh pihak pengelola restoran Golden dan pihak pelabuhan kapal cepat, dalam sehari ia dan kelompoknya yang berjumlah sebelas orang bisa menarik payang sebanyak tiga kali dan mendapat tangkapan ikan sebanyak lima sampai sebelas ember plastik besar bekas cat tembok.

Karim dan nelayan lainnya mengaku hanya bisa berharap saja menghadapi keadaan yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Akankah orang seperti Karim hanya dapat terus berharap? []

Wednesday, June 07, 2006

OPINI LAMPUNG POST PERTAMA :

Manuver ekonomi ala SBY-KALLA
Oleh Taufik Jamil Alfarau
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan,
Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

Harga beras turun. Kalimat ini begitu gencar diberitakan media massa. Terasa ada yang aneh memang, ditengah malambungnya harga harga barang, kok bisa bisanya harga beras turun? Sebenarnya penurunan harga beras ini bukanlah sesuatu yang aneh bila dilihat dari teori ekonomi. Hanya saya disini memakai acuan teori ekonomi yang sifatnya bertumpu pada ekonomi pasar, karena dasar teori inilah yang dijadikan dasar oleh pemernitah untuk mengeluarkan kebijakan impor beras. Dalam kajian teori ekonomi, sebelum diberlakukannya kebijakan impor, dalam pasar beras dalam negeri berlaku hukum penawaran inelastis. Dimana jumlah stok beras yang tersedia dipasar cenderung untuk tetap, karena produksi yang dihasilkan oleh petani terganjal oleh proses produksi yang masih menggunakan teknologi sederhana dan belum baiknya infrastruktur yang menunjang, sehingga output yang dihasilkan belum maksimal

Dengan jumlah produksi yang cenderung konstan, para tengkulak dan pedagang pun dengan seenaknya memainkan harga beras, dengan dalih bermacam macam yang salah satunya adalah naiknya harga BBM.
Akibat dari hal ini adalah para konsumen harus menerima saja harga yang ditetapkan oleh para tengkulak, karena jumlah stok beras yang tetap.

Dengan pendapatan yang sama, tingkat kepuasan konsumen yang didapat akan semakin berkurang karena naiknya harga harga kebutuhan pokok akibat dari naiknya harga BBM, Sebagai manusia yang rasional, rakyat sebagai konsumen akan melakukan penghematan atau pengurangan konsumsi sebagai satu satunya cara untuk menyiasati kenaikan harga harga.
Dengan berkurangnya konsumsi, akan berpengaruh juga pada berkurangnya jumlah penawaran semesta atau aggregate supply. Inflasi yang sudah sampai pada dua digit pun akan terkena dampaknya akibat berkurangnya penawaran semesta dan naiknya harga harga bahan kebutuhan pokok, yang merupakan salah satu aspek penting dalam penentuan inflasi.

Dengan diambilnya langkah mengimpor beras oleh pemerintah, stok beras dalam negeri akan mengalami penambahan. Akibat dari penambahan stok beras adalah turunnya harga beras, harga beras yang semula berkisar antara Rp.3.500 sampai Rp.3.100 perkilogram menjadi berkisar antara Rp.3.100 sampai Rp.2.800 perkilogram. (KOMPAS, 25-1-05)
Turunnya harga beras tersebut menurut teori ekonomi merupakan suatu hal yang sangat logis. Karena menurut hukum permintaan, dengan bertambahnya jumlah stok beras, harga akan turun dan penawaran akan berkurangnya.

Dengan diambilnya langkah kebiajkan tersebut, pemerintahan SBY cenderung bermain aman ditengah terpaan isu reshuffle kabinet yang dinilai gagal dalam bidang ekonomi. Reshuffle kabinet tersebut muncul kepermukaan setelah melihat kinerja pemerintahan SBY-KALLA selama setahun yang dinilai lamban dan tidak terkoordinasi. Dan yang paling disorot tentu saja kinerja menteri menteri bidang ekonomi, Aburizal bakrie dkk dinilai gagal setelah dinaikkannya harga bahan bakar minyak, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar dan melonjaknya angka inflasi sampai dua digit.
Satu satunya kebijakan yang dinilai cukup rasional untuk menyelamatkan “muka” adalah mengeluarkan kebijakan impor beras. Yang paling berperan dalam kebijakan ini adalah tentu saja, wakil presiden Yusuf Kalla. Sebagai seorang wakil presiden yang besar sebagai pengusaha, Kalla berhasil membuat sebuah kebijakan ekonomi yang diharapkan dapat bermanuver untuk menyelamatkan muka menteri menteri kabinet indonesia bersatu.
Yusuf Kalla mungkin berharap bahwa dengan impor beras, dapat menurunkan harga beras, sehingga mendapat sambutan dari rakyat yang baru saja dikejutkan dengan rencana kenaikan harga BBM pada awal tahun 2006.
Akan tetapi SBY dan Kallla, harus berhati hati dalam menerapkan kebijakan ini kalau tidak ingin mendapat hujan kritik yang lebih ganas lagi dari para kalangan politisi dan praktisi ekonomi.

Hal ini disebabkan karena kebijakan ini bermata dua, yaitu selain membuat harga beras turun, akan juga membuat nasib para petani semakin sengsara karena tidak kuat bersaing dengan beras impor yang harganya lebih murah.

Para petani di indonesia memang berada diantara dua pilihan yang sama sangat sulitnya, disatu sisi dengan harga yang tinggi sebelumnya, para petani mendapat pendapatan yang minim, karena yang menentukan harga adalah para distributor. Sedangkan disisi yang lain adalah, susahnya bersaing dengan beras impor yang harganya relatif lebih murah, dengan mutu yang tak kalah jauh para petani akan mendapat pendapatan yang semakin minim karena rendahnya harga harga.

Ungkapan SBY yang mengatakan bahwa impor beras hanya untuk mengamankan stok beras nasional dan menjamin bahwa beras impor tidak akan masuk kedalam pasar (KOMPAS, 22-11-2005), adalah sebuah ungkapan yang terkesan hanya retorika yang seperti biasa ia kemukakan dalam setiap kesempatan.

Karena jika hanya untuk stok nasional, mengapa ketua harian dewan ketahanan pangan yang juga enteri pertanian Anton apriyanto, mengatakan bahwa saat ini belum diperlukan impor beras, karena saat ini produksi gabah kering giling mencapai 53,98 juta ton atau setara dengan 33 juta ton beras. Produksi ini bila ditambah dengan sisa tahun lalu sebanyak satu juta ton berarti masih ada 34 juta ton beras.
Konsumsi beras sebesar 32,87 juta ton beras, sehingga ada surplus sebesar lebih dari 1,7 juta ton beras (KOMPAS, 22-11-2005).
Hal ini tentu tidak hanya membingungkan anggota komisi VI DPRRI, tetapi seluruh bangsa indonesia.
Kita tunggu saja manuver konyol lainnya dari pemerintahan SBY-KALLA. []

Tuesday, June 06, 2006

MUTUN BEACH 3 JUNI 2006